Value Innovation and Product Development

W.Chan Kim dan Renee Mauborgne dalam buku Blue Ocean Strategy (BOS) menempatkan perusahaan “kedai kopi” Starbucks sebagai salah satu perusahaan inovatif yang berhasil “berenang” di Samudra Biru. Betapa tidak, Starbucks Coffee telah berhasil mencatatkan angka-angka gemilang dan fantastik!. Terdapat 11.000 kedai di seluruh dunia (tahun 2007), 5 gerai baru dibuka setiap harinya, sekitar 35 juta orang pengunjung setia setiap bulannya, 100 orang karyawan (1987) bertumbuh menjadi 100.000 orang (tahun 2006). Business Week pernah mencatat dan menobatkan Starbucks sebagai salah satu brand terbaik di seantero dunia.

Starbucks memulai bisnis kedai kopi tahun 1971 di Seattle, Washington, AS dan mulai go public pada Bulan Juni 1992. Sebagai bentuk penghargaan dan tekad menjadikan seluruh karyawan sebagai mitra kerja, Starbucks Coffee menawarkan dan memberikan kesempatan kepada karyawan untuk menjadi pemegang saham. Artinya dengan status sebagai pemegang saham, para karyawan juga mempunyai kesempatan untuk menikmati keuntungan/laba yang diraih perusahaan ini (di luar gaji).

Ini tergolong unik, karena dalam kenyataanya saham-saham suatu perusahaan besar umumnya ditawarkan kepada para eksekutif puncak (top management). Satu hal yang pasti, ketika karyawan juga turut serta menikmati profit/laba yang diraih perusahaan, maka semangat kerja, loyalitas dan tanggung jawab akan terbangun dan itu menjadi hal positif bagi kemajuan perusahaan.

Konsep Strategi Samudra Biru yang menekankan pada inovasi nilai (value innovation) sangat mudah dipahami pada bisnis yang satu ini. Inovasi nilai terlihat sangat kental melebihi inovasi teknologi (technology innovation). Ya,.. Starbucks Coffee bukanlah bisnis teknologi tingkat tinggi yang membutuhkan penalaran rumit dalam memahaminya. Bisnis ini sederhana, “kedai kopi”. Ya…kedai kopi dengan sentuhan inovasi nilai.

Bagaimana Starbucks Coffee mengembangkan bisnisnya ke Samudra Biru?.

Jika kita melihat kembali kepada batasan-batasan konvensional kompetisi yang dipaparkan oleh W.Chan Kim dan Renee Mauborgne (Blue Ocean Strategy):

- Path 1 : across alternative industries

- Path 2 : across strategic groups within industries

- Path 3 : across the chain of buyers

- Path 4 : across complementary product and service offerings

- Path 5 : across functional or emotional appeal to buyers

- Path 6 : across time

menempatkan Starbucks Coffee pada path 5: across functional or emotional appeal to buyers sebagai perusahaan yang dengan gemilang mengubah bisnis kopi sebagai komoditas menjadi daya tarik emosional bagi konsumennya. Dengan layanan terbaik, tempat kedai kopi yang nyaman serta “sentuhan” khas Starbucks lainnya, harga kopi sebagai komoditi (biji kopi) yang umumnya sekitar $0,01/cup, kopi sebagai “goods” (bubuk kopi yang telah dibungkus dalam kemasan) seharga $ 0,03~0,10/cup. Apabila kopi ditingkatkan lagi dengan “service” (kopi yang disajikan di kedai kopi umumnya), maka kopi akan berharga sekitar $0,5~3,00/cup. Terakhir, kopi dengan “experience”-nya Starbucks Coffee dijual dengan harga fantastis $ 2,00~10,00/cup.

Starbucks Black Apron Exclusive

Starbucks Coffee menawarkan kopi kualitas terbaik di seluruh dunia. Setiap periode tertentu Starbucks mengeluarkan produk satu edisi kopi unggul pilihan yang diperkenalkan kepada konsumennya sebagai produk utama di seluruh kedai kopi Starbucks. Program ini dikenal dengan “Starbuck Black Apron Exclusive”. Kopi-kopi pilihan dari berbagai Negara pernah menjadi “Starbuck Black Apron Exclusive”, di antaranya dari Zambia, Colombia, Brazil, Ethiopia, El Salvador, Tanzania. Dari Indonesia?….ada “Kopi Kampung” (Sulawesi) pada bulan Mei 2006 dan Kopi Siborong-Borong (kopi Sigarar Utang?). Ya…., Kopi Siborong-Borong pernah menjadi “Starbuck Black Apron Exclusive” pada Bulan Mei tahun 2007.

Dengan bahasa yang lugas, Dr. Joseph A. Michelli mendeskripsikan sejarah panjang dan kiat susses Starbucks dalam buku berjudul The Starbucks Experience. Tak terkecuali dipaparkan juga cerita pengalaman berkesan dan mengagumkan para konsumennya ketika masuk ke gerai Starbucks.

Namun, awal bulan ini dunia dikagetkan dengan berita penutupan sejumlah gerai perusahaan ini di Amerika Serikat. Jumlah yang akan ditutup?,…. lumayan banyak, sekitar 600 buah lokasi (sampai akhir Juli 2008). The Wall Street Journal memublikasikan berita ini dalam artikelnya yang berjudul: Starbucks Gets Pleas Not to Close Stores. Lokasi yang paling banyak mengalami penutupan adalah gerai yang berada di wilayah California, Florida and Texas.

Apakah “Samudra Biru” Starbucks sudah mulai “memerah” dan akan beralih menjadi “Red Ocean” seiring dengan munculnya pesaing yang mengikuti langkah strategis Starbucks (me- too)?, atau adakah selera dan kebutuhan penikmat kopi khususnya di Amerika Serikat telah berubah?.

Selamat ”berenang” di Samudra Biru

Referensi

1. www. Starbucks.com

2. Joseph A. Michelli , The Starbucks Experience

Most Commented Posts

Comments (11)

  1. dino fabriant said on 04-08-2008

    Bung Hardi…..
    Mari kita nikmati Starbucks bersama…..
    Supaya lebih bisa merasakan atmosphere disana lebih mendalam….

    Sambil mendengarkan ulasan ilmiah bung Hardipurba….

    ;)

    [Reply Komentar]

  2. hardipurba said on 05-08-2008

    @dino fabriant

    Hallo Pak Dino….senang Bapak berkunjung ke sini…sering-sering aja ya,..nanti kopi disiapkan :-)

    Boleh juga tuh pak usulnya….biar diskusinya lebih mantap ya :-)
    Jadi tidak hanya teori, tapi langsung praktek nikmati Starbucks :-)

    disetting aja waktunya ya pak…kalau rombongan Cibitung sih kapan-kapan aja selalu siap :-)

    [Reply Komentar]

  3. Salmon said on 11-08-2008

    untuk lebih detail mohon pemetaan kondisi perusahaan pada Strategy canvas dapat ditambahkan hal ini lebih menjelaskan titik berat dari Value innovation yang ditawarkan bagi costomer.

    [Reply Komentar]

  4. Salmon said on 11-08-2008

    ok langsung diatur waktunya kapan kita bisa kumpul, Pak Dino langsung diatur pak.

    [Reply Komentar]

  5. Dino Fabriant said on 22-08-2008

    Lagi-lagi strategy lautan biru….
    Blue Ocean Strategy merupakan salah satu “strategic management” agar perusahaan apakah Consumer Goods atau pun Jasa dapat meraih profit optimal mungkin.

    Dalam dunia “assembling industri”, konsep BOS merupakan sebuah penyadaran para pelaku industri assembling bahwa COST REDUCTION itu tidaklah cukup.

    Cost Elemination, Cost Reduction yang bisa dikategorikan E dan R dalam BOS tools, biasa dilakukan oleh “kontraktor”/”assembling industri” guna meningkatkan profit.

    Berbeda dengan “research industri” /industri yang memiliki product development. Cost Elimination/Reduction bukanlah salah satunya komponen peningkatan profit. Pricing Policy, How to attract consumer sehingga product dapat terjual lebih banyak..dan menentukan keunggulan product, kualitas design …merupakan integrasi dari keseluruhan strategy perusahaan.

    Oleh karena itu.. W.Chan Kim dan juga Bung Hardipurba mencoba memberikan penyadaran akan segala sesuatu yang sebelumnya mungkin dilakukan dengan cara “dibawah sadar” diangkat ke alam sadar…guna keluar dari dunia persaingan untuk meraih profit perusahaan yang lebih baik. Saya sedikit keberatan jika dikatakan untuk “memenangkan pasar” (market volume/share), karena dgn konsep BOS strategy lebih mengutamakan meraih profit yang lebih baik. Jual sedikit no problemo asal Profit perunit lebih baik, berbeda dengan konsep mass production dimana profit perunit kecil asal jual lebih banyak.

    [Reply Komentar]

  6. Exsaudi said on 01-10-2008

    Salam pak Hardi,
    Menarik sekali paparannya tentang Starbuck ini.
    Kapan kapan kita bis ngopi……
    Setelah Lebaran?…

    [Reply Komentar]

  7. David said on 01-10-2008

    Horas Bang,
    Gimana rasanya kopi Starbucks ini? sama ga Bang kek Kopi yang dikampung itu? yang ada “SUSU”nya, berapa harganya?
    Kali-kali aja kita bang….
    Makasih, kita tunggu ajakannya.

    [Reply Komentar]

  8. hardipurba said on 06-10-2008

    @Exsaudi
    Horas Lae,….terima kasih telah berkunjung. Sering-sering saja berkunjung biar saya tambah semangat menulis :-)

    Disetting aja waktunya ya Lae, kita ngopi di SC.
    Setelah libur Lebaran ok juga :-)

    @David
    Rasa kopinya sih nggak jauh beda, kesannya yang berbeda. Kata para penggemar SC, “ada pengalaman tersendiri” ketika mereka ngopi di SC. Kopi Siborong-borong (kopi Sigarar Utang? :-) pernah menjadi kopi produk unggulan yang ditawarkan SC kepada pelanggannya di US dan negara lainnya.

    Nanti kita setting waktunya sama Lae ERS ke SC. :-)

    [Reply Komentar]

  9. hendry Gaol said on 06-10-2008

    Salam…..\\\
    Yang kek gini nih yang kudu cepat direalisasikan,…\
    kalo jadi ke SC membahas Lautan ini,..ajak-ajak kita yah,…
    keknya seru nih

    [Reply Komentar]

  10. dino fabriant said on 20-05-2009

    Bung Hardipurba…
    let’s create the 2nd book…….

    by…coba cari info tentang radio kayu Magno (Magno Wooden Radio)…karya senior saya Singgih.
    Radio tersebut sangat terkenal di mancanegara.
    dan sangat “blue ocean” product dari indonesia….

    and tunggu product2 “blue ocean” saya…;)

    [Reply Komentar]

  11. hardipurba said on 22-05-2009

    @dino fabriant
    Ok Boss….sedang dalam penyusunan, walau pun sepertinya masih agak lama karena masih banyak yang perlu disemprnakan.
    Baik Pak,…saya akan coba cari informasi ttg. Radio Kayu Magno tersebut untuk memperkaya referensi . Yang jelas nanti akan lebih sering lagi diskusi dengan Pak Dino.

    [Reply Komentar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *