Value Innovation and Product Development

Dr. Kaoru Ishikawa seorang ilmuwan Jepang, merupakan tokoh kualitas yang telah memperkenalkan user friendly control, Fishbone cause and effect diagram, emphasised the ‘internal customer’ kepada dunia. Ishikawa juga yang pertama memperkenalkan 7 (seven) quality tools: control chart, run chart, histogram, scatter diagram, pareto chart, and flowchart yang sering juga disebut dengan “7 alat pengendali mutu/kualitas” (quality control seven tools).

Diagram Fishbone dari Ishikawa menjadi satu tool yang sangat populer dan dipakai di seluruh penjuru dunia dalam mengidentifikasi faktor penyebab problem/masalah. Alasannya sederhana. Fishbone diagram tergolong praktis, dan memandu setiap tim untuk terus berpikir menemukan penyebab utama suatu permasalahan.

Continue Reading >>

Kualitas menjadi faktor utama bagi konsumen sebelum memutuskan membeli suatu produk (barang atau jasa). Produk dengan dengan kualitas baik, tahan lama, dan handal akan menjadi referensi utama bagi pelanggan ketika dia atau sahabatnya ingin memiliki produk sejenis. Brand (merek) perusahaan produsen akan meningkat dan semakin dikenal masyarakat. Sebaliknya, pengalaman seseorang membeli produk dengan mutu yang mengecewakan (disadari atau tidak) dapat menjadi ”iklan negatif” yang sangat tidak menguntungkan pihak produsen. Cepat atau lambat, produk yang berkualitas rendah akan ditinggalkan oleh konsumen.

Continue Reading >>

Masih berhubungan dengan topik sebelumnya, muda : Aktivitas non-value added yang perlu dieliminasi”. Kalau kata muda dapat diterjemahkan sebagai “pemborosan”, maka istilah mura dalam Bahasa Jepang berarti “tidak teratur” atau “tidak merata”. Apanya yang tidak teratur?…….ya, mencakup beban kerja serta proses kerja di lini produksi. Sesuatu yang tidak teratur memang sering menjadi mubajir, dan ujung-unjungnya masuk kategori aktivitas non-value added.

Mengerjakan sesuatu yang sesungguhnya tidak mempunyai nilai tambah bagi produk berupa barang atau jasa yang dihasilkan sebagai output suatu perusahaan atau unit bisnis, harus diminimalisasi atau bahkan dihilangkan agar dapat tetap bertahan dan eksis di era persaingan ketat bisnis seperti sekarang ini.

Continue Reading >>

Persaingan ketat bisnis mendorong setiap industri untuk melakukan penghematan dalam rangka menciptakan struktur harga output produk yang kompetitif. Hal ini tidak bisa dipungkiri, pada saat ini hampir semua jenis produk (barangatau jasa) tidak pernah sepi dari kompetisi. Pesaing baru datang, tumbuh, dan pesaing lama berupaya memperbesar raihan pangsa pasar (market share) dengan terus melakukan penetrasi, salah satu dengan menawarkan faktor kompetisi vital yaitu harga (price) kompetitif.

Di sisi lain, semua perusahaan juga tentu akan berupaya memperbesar marjin laba (profit) agar tetap bisa survive. Di tengah membengkaknya biaya produksi akhir-akhir ini, terkadang ”memaksa” pihak produsen untuk menaikkan harga jual untuk dapat mengimbangi biaya dan pengeluaran yang cenderung melambung tinggi.

Continue Reading >>