Value Innovation and Product Development

Kualitas produk (barang atau jasa) yang cacat (reject), adalah merupakan pemborosan atau waste karena menyebabkan biaya besar yang tidak perlu. Ya…..barang reject yang masih bisa “diselamatkan” akan membutuhkan proses tambahan pengerjaan ulang (rework). Waktu untuk mengerjakan ulang, ongkos tenaga/pekerja bertambah dan “akibat besar” lainnya yang sangat merugukan, terjadinya keterlambatan pengiriman kepada pelanggan (customer) baik internal maupun eksternal. Bagaimana dengan produk reject yang tidak dapat diperbaiki dengan rework?.

Statusnya jelas…..akan masuk kategori barang rongsokan yang tidak berguna dan umumnya (kendatipun) dapat dijual dan ada yang mau membelinya, akan berharga sangat rendah jauh di bawah harga material bahan baku produk tersebut (jika kasus produknya berupa barang). Kualitas produk perlu dijaga dan dikembangkan seiring dengan tingkat daya kritis konsumen yang terus meningkat akan kualitas barang dan atau jasa.

Pola-pola lama yang konvensional sudah saatnya ditinggalkan diganti dengan konsep manajemen kualitas moderen yang terus berkembang, yang dikenal dengan TQM (Total Quality Management).

Konsep Trilogi Kualitas pertama kali dikembangkan oleh Dr. Joseph M. Juran seorang ilmuwan yang banyak mengabdikan dedikasinya pada bidang manajemen kualitas dan mempunyai kontribusi penting dalam perkembangan dan kemajuan quality management khususnya di bidang industri manufaktur.

Nama Joseph M. Juran layak disejajarkan dengan nama-nama tokoh manajemen kualitas dunia lainnya seperti W. Edward Deming yang terkenal dengan Deming’s 14 point, Philip B Crosby dengan Quality is free-nya, A.V. Feigenbaum yang mencetuskan konsep Three steps to quality¸ Walter A Shewart, Kaoru Ishikawa dan Genichi Taguchi, serta sederet nama populer dan para tokoh pionir manajemen kualitas yang dikenal dunia.

Lahir pada 24 Desember tahun 1904 di Braila-Moldova, Dr. Joseph M. Juran mengemukakan kerisauannya akan perkembangan manajemen kualitas dunia saat itu dengan pernyataannya bahwa “telah terjadi krisis kualitas”. Anak dari Jakob (seorang pembuat sepatu desa ini), mempunyai pemahaman bahwa cara tradisional tidak akan mampu lagi menghadapi krisis kualitas yang terjadi.

Pendapat ini tentu bisa diterima mengingat pada saat itu dunia industri masih banyak yang memakai sistem manajemen kualitas konvensional dan kondisi ini sangat mengusik pengalaman industri dan intelektualitas seorang Dr. Joseph M. Juran.

Pada tahun 1986, sarjana bidang electrical engineering yang mengawali karirnya di perusahaan Western Electric ini mempublikasikan Trilogi Kualitas (The Quality Trilogy), dengan mengidentifikasi aspek ketiga dalam manajemen kualitas yakni perencanaan kualitas (quality planning).

Hal ini tergolong terobosan baru saat itu, dimana manajemen kualitas pada dunia industri masih hanya mengenal dua aspek kualitas yang dikenal; pengendalian kualitas (quality control) dan perbaikan kualitas (quality improvement).

Seberapa besar peranan Trilogi Kualitas dalam Manajemen Kualitas?

Penerapan konsep Trilogi Kualitas menjadikan cakupan manajemen kualitas menjadi lebih luas dan kompleks. Membutuhkan keahlian dan dukungan sumber daya dalam pelaksanaannya.

1. Perencanaan Kualitas (quality planning)

- memenuhi kebutuhan pelanggan/konsumen

- tentukan market segment (segmen pasar) produk

- mengembangkan karakteristik produk sesuai dengan permintaan konsumen

- mengembangkan proses yang mendukung tercapainya karakteristik produk

2. Pengendalian Kualitas (quality control)

- mengevaluasi performa produk

- membandingkan antara performa aktual dan target

- melakukan tindakan jika terdapat perbedaan/penyimpangan

3. Perbaikanan Kualitas (quality improvement)

- mengidentifikasi proyek perbaikan (improvement)

- membangun infrastruktur yang memadai

- membentuk tim

- melakukan pelatihan-pelatihan yang relevan

> diagnosa sebab-akibat (bisa memakai diagram Fishbone-Ishikawa)

> cara penanggulangan masalah

> cara mencapai target sasaran

Dunia akan senantiasa mengenang dan menerapkan konsep Trilogi Kualitas (The Quality Trilogy) khususnya di industri manufaktur. Dengan adanya perencanaan kualitas yang baik akan sangat bermanfaat bagi dunia industri dalam menetapkan serta membuat langkah strategis agar para konsumen terpuaskan melalui ketersediaan dan pemakaian produk yang berkualitas. Dunia pun pantas berterima kasih kepada salah seorang tokoh manajemen kualitas, Dr. Joseph M. Juran.

Apakah lini industri Anda mengalami “krisis” kualitas? Atau masihkah lini proses Anda hanya mengandalkan pengendalian kualitas (quality control) dan pengembangan kualitas (quality improvement)?. Atau barangkali masih mengandalkan pola-pola yang konvensional?

Saatnya melengkapi dan menerapkan satu aspek manajemen kualitas lainnya; perencanaan kualitas (quality planning) dari Dr. Joseph M. Juran.

Selamat mencoba!.

Read Also.....

Comments (10)

  1. ahmad isni said on 10-10-2008

    waaaa…mantep ni pak hardi sekarang
    dah punya web sendiri..
    maju terus pakkk…..!!
    hehehhee…

    [Reply Komentar]

  2. hardipurba said on 10-10-2008

    @ahmad isni
    Wah…..tamu dari Malaysia sudah berkunjung :-)
    Bagaimana kabarnya di sana Mas Ahmad?…..sukses selalu yah.
    Rajin-rajin belajarnya ya biar cepat lulus :-)
    Terima kasih telah berkunjung ya,…sering-sering saja biar saya tambah semangat menulis…nanti kopi disiapkan :-)

    [Reply Komentar]

  3. Dudung Duhara said on 21-07-2009

    Ka Hardi, tulisannya menambah wawasan manajemen kualitas. nulis terus Pak, dan berbagi.

    [Reply Komentar]

  4. hardipurba said on 30-07-2009

    @ Dudung Duhara

    Hallo Pak Dudung,…terima kasih sudah berkunjung.
    Selamat mengerjakan Thesis nya ya Pak….semoga cepat selesai.
    Salam sukses.

    [Reply Komentar]

    Dudung Duhara Reply:

    Pak, kayaknya kita bisa kolaborasi nulis tentang innovasi di LG. ….best practices lah…

    salam sukses.

    [Reply Komentar]

    hardipurba Reply:

    Ok Pak Dudung…..nanti kita setting waktu untuk perencanaan teknisnya.

    Salam sukses juga Pak..

    [Reply Komentar]

  5. haeru said on 30-07-2009

    mas hardi saya mau tanya dong…….biasanya di perusahaan membuat sasaran atau tingkat reject yang di tuju….misalnya perusahaan menentukan 5% tingkat reject yang di targetkan….nah pertanyaan saya ada alasan tertentu atau cara nya gmn perusahan menentukan target cacat yang dituju..apa cuma berdasarkan keinginan perusahaan atau ada referensi lain ya???mohon bantuannya ya untuk di jawab…..lalu ada kriteria tertentu ga pak bagi perusahaan dengan tingkat rejectnya…misalnya 0-2% perusahaan manufacture yang menggunakan robot…dan seterusnya…ada seperti itu ga ya pak????

    [Reply Komentar]

  6. hardipurba said on 04-08-2009

    @haeru
    Target reject umumnya dibuat berdasarkan data reject periode atau tahun sebelumnya. Misalnya, kalau reject periode yang lalu 5%, maka bagian QA perusahaan akan mematok plan tahun depan di bawah 5% (misalnya menjadi hanya 2% atau 1%) . Tentu dengan sejumlah rencana aksi perbaikan yang terencana, sistematis dan rasional. Jangan bermimpi meraih tingkat reject yang rendah, kalau sistem masih amburadul, tim yang kurang terlatih dan kurang pemahaman akan seluruh aspek manajemen kualitas, dan seluruh pekerja belum menganggap kualitas sebagai hal utama. Kalau hanya berdasarkan keinginan perusahaan tanpa melihat dan membangun sistem dan sarana penunjang serta SDM , maka akan sulit meraih kualitas yang baik. Referensi (umumnya) yang dipakai dalam mematok target reject adalah data periode sebelumnya. Oleh karena itu, seluruh data reject harus ada. Dengan data tersebut, kita mempunyai dasar yang kuat amenentukan rencana rasio reject yang akan dicapai. Kalau data tidak ada?…memang agak susah menetapkan angka tingkat reject-nya.
    Maaf Pak, saya belum mempunyai referensi, kalau untuk perusahaan manufaktur yang menggunakan robot misalnya, mematok rasio reject 0~2%.
    Salam sukses.
    Terima kasih.

    [Reply Komentar]

  7. novi said on 28-09-2009

    ada tokoh2 bidang manajemen kualitas lainnya gakk???
    perlu banget buat tugazzz…
    saia udah dapat :
    1. joseph ,oran
    2. taiichi ohno
    3. philip crossby
    4. edward deming
    5. chan kim
    nah?? gemana?
    tak ingin revisi makalah saia inihh…
    buang2 waktu… hehehe ^^
    terimakasih…

    [Reply Komentar]

    hardipurba Reply:

    @novi
    ada juga beberapa tokoh manajemen kualitas yang lainnya seperti:

    1.Genichi Taguchi
    2. Arman V. Feigenbaum
    3. Shigeo Shingo

    [Reply Komentar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *