Value Innovation and Product Development

Produk tanpa cacat (zero defects) adalah kondisi ideal yang selalu didambakan, baik oleh pembuat barang (produk dan atau jasa) maupun pelanggan atau konsumen yang memakainya. Bagi perusahaan pabrikan, dengan zero defects maka waste (pemborosan) dapat ditekan. Masih ingat bukan?, bahwa salah satu jenis muda adalah barang atau produk cacat (defect). Sedangkan keuntungan bagi konsumen jelas. Produk (apalagi yang baru dibeli/baru) sangat menjengkelkan apabila ditemukan kerusakan yang mengakibatkan tampilan ataupun performa menjadi tidak maksimal.

Intinya, cacat kualitas mempunyai efek biaya (cost) besar yang berhubungan dengannya. Di samping reputasi perusahaan atau merek (brand) akan turun, waktu, dan uang yang terbuang sia-sia. Di sisi lain progam mengurangi atau bahkan menghilangkan defect membutuhkan effort besar berupa waktu dan biaya yang tidak sedikit. Pertanyaan yang kemudian muncul: “Apakah mungkin semua output produk berkualitas sempurna, tanpa cacat atau zero defects?.

Ungkapan “zero defects” and “right first time” dipromosikan pertama kali oleh seorang tokoh manajemen kualitas Philip Crosby, awal tahun 1970-an. Zero defects Philip Crosby bukanlah berarti melakukan dengan sempurna dan tanpa kesalahan. Merupakan hal yang sungguh sangat sulit atau bahkan mustahil dilakukan khususnya pada industri manufaktur dengan ratusan proses dan dengan ribuan parts atau komponen. Crosby mau menekankan bahwa tidak bisa diijinkan sejumlah kesalahan dibangun pada suatu produk atau proses dan mau mengubah perspektif orang.

Tokoh yang memublikasikan Quality Is Free pada tahun 1979 ini meyakini bahwa manajemen memegang peranan utama dalam pengendalian kualitas dan para pekerja hanyalah mengikuti para manajer. Ketika terdapat kualitas produk yang jelek maka penanggungjawab utama akan hal tersebut bukanlah para worker (pekerja), para manajer harus melakukan evaluasi sebagai penanggungjawab utama kualitas.

Philip Crosby menggambarkan “empat hal yang mutak pada manajemen kualitas” yang lebih dikenal dengan The Four Absolutes of Quality Management yang antara lain menekankan:

>> kualitas digambarkan sebagai kesesuaian dengan persyaratan, bukan sebagai

“kebaikan” atau “kerapihan”.

>> Sistem untuk membangun kualitas adalah pencegahan bukan penilaian.

>> Standar performa harus zero defect (nol defect).

>> Pengukuran dari mutu adalah price (harga) ketidaksesuaian bukan indeks.

Tidak hanya sampai di situ, Philip Crosby dengan sangat jelas dan sistematis memberikan metode pelaksanaannya yang dikenal dengan “Empat belas tahapan program perbaikan kualitas”.

Tokoh manajemen kualitas kelahiran Virginia tahun 1926 ini memperkenalkan tahapan proses perbaikan kualitas sebagai berikut:

1. Komitmen manajemen dengan penekanan pada pencegahan defect (cacat).

2. Tim perbaikan kualitas menyusun anggota tim dari setiap departemen atau fungsi beserta semua perangkat yang diperlukan.

3. Lakukan pengukuran kualitas untuk memantau/memonitor status dan aktivitas perbaikan.

4. Biaya evaluasi kualitas oleh alat pengontrol untuk figur yang akurat.

5. Kesadaran kualitas dengan mengomunikasikan biaya/ongkos kualitas.

6. Tindakan korektif untuk menanamkan suatu kebiasaan mengidentifikasi segala permasalahan dan memperbaikinya.

7. Adanya satu komite atau panitia khusus untuk mendukung ”zero defects”.

8. Melatih para penyelia/supervisor sedemikian sehingga semua para manajer dapat memahami program tersebut dan mampu menjelaskannya.

9. Laksanakan dan sosialisasilkan suatu “hari tanpa defect”.

10. Menentukan sasaran/target tim yang spesifik dan terukur.

11.Mendorong komunikasi karyawan dengan manajemen mengenai rintangan dan tantangan dalam membangun kualitas.

12. Memperkenalkan pencapaian prestasi.

13.Dewan kualitas dari para profesional kualitas memimpin informasi status dan gagasan kualitas.

14. Melakukannya lagi, peningkatan kualitas terus menerus tanpa akhir.

Bagaimana menerapkan konsep Philip Crosby dalam aplikasi di ril di lapangan?. Inilah bagian terpenting agar konsep yang bagus ini bermanfaat dan dapat diaplikasikan secara nyata.

Dari mana kita sebaiknya memulainya?

>> Dapat dimulai dengan mengevaluasi terlebih dahulu organisasi manajemen kualitas.

>> Kemudian mulailah dengan menerapkan “Empat belas tahapan program perbaikan kualitas” seperti di atas.

Selamat menerapkan zero defects Philip Crosby.

Read Also.....

Comments (9)

  1. Rika said on 23-06-2011

    Maaf saya mau tanya…
    Bagaimana cara mencari zero defect di perusahaan manufaktur melalui biaya kualitas??
    Apakah ada rumusnya??
    Mohon bantuannya… Terimakasih

    [Reply Komentar]

    hardipurba Reply:

    @ Rika
    Biaya kualitas terdiri dari 4 kategori yakni:
    1. Biaya pencegan (Prevention cost)
    2. Biaya penilaian (Detectional cost)
    3. Biaya Kegagalan internal (Internal failure cost)
    4. Biaya Kegagalan eksternal (External failure cost)
    Zero defect berarti tanpa cacat (tingkat reject sangat kecil bahkan mendekati nol), sudah tercapai akan menyebabkan biaya kualitas rendah, khsusnya biaya nomor 3 (Internal failure cost) dan nomor 4 (External failure cost).
    Demikian sedikit penjelasan yang bisa saya berikan.
    Btw…terima kasih telah berkunjung.
    Salam sukses.

    [Reply Komentar]

  2. henik purwati said on 04-07-2011

    Teori tentang zero defect ada dibuku karangan siapa saja

    [Reply Komentar]

  3. henik purwati said on 04-07-2011

    Pak Purba mohon maaf saya mau tanya, kalo kita memasukkan zero defect dalam variabel kualitas pelayanan, faktor apa saja yang bisa dimasukkan dalam variabel tersebut? Terimakasih.

    [Reply Komentar]

    hardipurba Reply:

    @henik purwati
    Kalau zero defect dimasukkan dalam satu variabel kualitas pelayanan, maka jelas tingkat/ persentase defect NOL atau sangat-sangat kecil. Dalam SiX Sigma misalnya, apabila tingkat defect hanya 3,41 PPM-Part Per Million (per-sejuta). Dalam konteks kualitas suatu pelayanan, Zero Defect berarti:
    1. Tanpa keterlembatan pengiriman
    2. Tanpa kesalahan order pemesanan
    3. dan seterusnya, selalu tepat dari sisi: waktu, tipe, jumlah, dlsb.

    Teori tentang Zero Defect, silahkan dibaca pada buku-buku tulisan Philip B. Crosby (1926-2001), seperti bukunya yang berjudul: Quality is Free (1979), Let’s Talk Quality (1989), Completeness: Quality for the 21st Century(1994) dll.

    Demikian sedikit yang bisa saya jelaskan.
    Salam sukses.

    [Reply Komentar]

  4. irdana said on 05-07-2011

    tolong uraikan pidato dr zero defect

    [Reply Komentar]

    hardipurba Reply:

    @irdana
    Zero defect adalah merupakan konsep yang pertama kali dicetuskan oleh salah satu tokoh manajemen kualitas Philip Crosby, jadi bukan merupakan suatu pidato. Pemikiran-pemikiran beliau terkait kualitas moderen banyak tertuang dalam buku-buku yang di tulisnya. Philip Crosby juga mengemukakan suatu dalil, yang kita kenal dengan “Dalil Manajemen Kualitas Crosby”, yang terdiri dari 4 poin, dimana poin ke-3: Standar Performa Kualitas adalah “Zero Defect”.
    Demikian yang bisa yang informasikan, semoga bermanfaat.

    Salam sukses.

    [Reply Komentar]

  5. hidayat said on 26-10-2011

    apa hubungannya zero defect dengan AQL (Acceptable Quality Level) ?
    Terimakasih

    [Reply Komentar]

    admin Reply:

    @hidayat
    Semakin kecil tingkat produk cacat (defect), apalagi tanpa cacat (zero defect), secara umum AQL semakin tinggi, atau AQL nya berada pada tingkat yang baik. Bwt…terima kasih telah berkunjung. Salam sukses.

    [Reply Komentar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *