Value Innovation and Product Development

akademisi-dan-politisi

Seorang rekan pernah berkata kalau isi bog ini terlalu spesifik dan serius. Praktis dia tidak mengerti makna dan isi tulisan yang telah berjumlah lebih dari 20 postingan ini. Ya waktu itu saya tidak mengatakan apa-apa, soalnya bisanya memang cuma menulis yang seperti ini. Yang lain belum bisa, makhlumlah kemampuan juga masih sangat terbatas :-) . Saya juga dapat makhlum dan memahami kalau ada rekan-rekan yang barang kali kurang sreg dengan topik yang disajikan disini, karena terlalu khusus. Mudah-mudahan postingan yang satu ini dapat menghibur :-) . Sederhana, namun maknanya lumayan dalam. Ya, ini terjadi minggu lalu pada saat rapat koordinasi para dosen pascasarjana.

Acara yang dimulai menjelang siang hari itu diikuti lebih dari 70 orang dosen senior dan beberapa guru besar dengan kondisi yang nyaman. Sepertinya panitia dan pihak pengelola program studi sudah mempersiapkan acara ini dengan lumayan matang. Tersedia kopi dan snack ringan bagi para peserta yang belum sempat sarapan pagi di rumah. Juga ada acara makan siang bersama setelah rapat koordinasi setiap jurusan selesai. Lumayan, hari ini dapat makan siang gratis :-) .

Seperti biasa, acara diisi juga dengan semacam evaluasi semester yang lalu, agar menjadi bahan perhatian dan perbaikan semester yang akan datang. Banyak juga yang mengajukan pertanyaan atau sekadar masukan bagi pihak pengelola program. Tak terkecuali ada beberapa masukan dalam meningkatkan mutu penelitian dan tesis para mahasiswa.

Jenis Tindakan /

Perbuatan

Akademisi

Politisi

Salah

Boleh (o)

Tidak Boleh (x)

Berbohong

Tidak Boleh (x)

Boleh (o)

Namun ada sedikit yang agak unik, menggelikan, namun kalau disimak ternyata ada juga benarnya. Mungkin sebagian pambaca sudah ada yang pernah mendengar.

Ketika ketua program pascasarjana giliran menjawab pertanyaan beberapa dosen senior seputar kualitas karya tulis akhir para mahasiswa, terlontarlah oleh beliau ungkapan yang satu ini.

“Kalau di dunia akademisi terdapat kesalahan dan kekurangsempunaan itu boleh, asal jangan berbohong. Berbeda dengan dunia politik, salah justru nggak boleh tetapi bisa berbohong”. Sontak para hadirin pun tertawa :-) .

Apa memang benar seperti itu atau hanya bahan candaan belaka?. Kalau kita melihat kondisi ril seperti sekarang ini, barang kali ada benarnya juga :-) .

Bagaimana pendapat Anda? :-) .

Read Also.....

Comments (14)

  1. Lintong Nababan said on 04-03-2009

    Realitanya:

    1.Akademisi terdapat ketidak sempurnaan, saya pikir boleh. Tidak sempurna bukan berarti sama dengan bohong.

    2.Tidak sempurna sama halnya dengan penelitian, dimana Probability (tingkat keyakinan)jarang mencapai diatas 95%: P= 95% Alpa 5%) kecuali kedokteran (P=99 %, alpa 1%) akademisi berfikir Ilmiah.

    3. Pemikiran dan tindakan tindakannya dapat di uji / dibuktiikan

    Sedangkan Politisi:

    1. Politisi belum pasti berasal dari akademisi (baca:latar belakang), sehingga perkataan dan tindakan2 nya kurang ilmiah

    2. karena kurang ilmiah, maka pemikiran tindakan-tindakannya sering salah dan tidak dapat dibuktitkan

    [Reply Komentar]

  2. hardipurba said on 05-03-2009

    @Lintong Nababan
    Kalau seorang akademisi juga sebagai politisi?
    Kira-kira bagaimana jadinya, cocok nggak ya Pak? :-)

    [Reply Komentar]

  3. Mr Bien said on 05-03-2009

    Aku memang tak ngerti sama sekali dgn tulisan ini mungkin karena saya hanya lulusan SMA ya ,maaf ate nunga pola ro iba tu jabumuna on

    [Reply Komentar]

  4. hardipurba said on 05-03-2009

    @Mr Bien
    Horas di Lae Nainggolan par Batam.
    Mauliate Lae nungga berkunjung tu jabu nametmet on.
    Songon on dope tulisan singkat na boi binaen, sai anggiat ma boi tambah berkembang tu angka tingki nanaeng ro.
    Mauliatema jala horas.

    [Reply Komentar]

  5. pujo said on 05-03-2009

    Kebohongan itu relative dilakukan oleh setiap orang, mau dosen atau politisi

    [Reply Komentar]

  6. Mr Bien said on 06-03-2009

    Nunga boaha khabar Lae, hujaha biodata i Parbaringin do lae hape,
    Molo au tamat SMp RK1 thn 1983, Lulus SMA RK Pakkat 1986 sataon do di toru hamu ate… Horas ma ate molo di Batam Si Kiris Purba anggi ni almarhum Harton Purba ma tetanggaku

    [Reply Komentar]

  7. hardipurba said on 10-03-2009

    @ Mr Bien
    Horas ma Lae Nainggolan.
    Toho do i Lae, di Baringin do hutanta. Molo Lae par Temba, berarti apala sahuta do hita :-) . Dang pola tangkas be tinanda hamu Lae, ala taon 1990 pe hami lulus sian SMA RK Pakkat, sekitar 4 taon di toru muna.
    Pasahat Lae ma tabe tu ampara Kris Purba di Batam.
    Horas jala mauliatema.

    [Reply Komentar]

  8. Gersom Nainggolan said on 12-03-2009

    Beberapa hari lalu di tvone, ketua Mahkamah Konstitusi Prof Mahfud MD yg juga akademisi menyataken kalau dia frustasi dengan partai politik yg notabene banyak politikus-nya…dan dia pun memberikan statement kalau tidak akan terlibat di parpol lagi…
    Suatu saat nanti tidak menutup kemunginan ada parpol yang ‘meminang’ Pak Hardi Purba untuk bergabung dalam wadah parpolnya, bagaimana?

    [Reply Komentar]

  9. hardipurba said on 13-03-2009

    @Gersom Nainggolan
    Gersom Nainggolan:
    “Suatu saat nanti tidak menutup kemunginan ada parpol yang ‘meminang’ Pak Hardi Purba untuk bergabung dalam wadah parpolnya, bagaimana?”

    Hardi Purba:
    Soalnya sampai saat ini belum ada yang “meminang” saya Pak Gersom, jadi belum bisa menjawab :-)

    [Reply Komentar]

  10. Tommy M J Sihotang said on 19-03-2009

    Horas bang Hardi.

    Hubaen ma jolo saotik pandapothu ate bang. Mauliate website muna on, sungguh hebat. Bravo !

    Seperti yang sudah kita ketahui, pendidikan akademik adalah pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu, yang mencakup program pendidikan sarjana, magister, dan doktor.

    Politik adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam negara. Pengertian ini merupakan upaya penggabungan antara berbagai definisi yang berbeda mengenai hakikat politik yang dikenal dalam ilmu politik.

    Menurut Bluntschli, Garner dan Frank Goodnow menyatakan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari lingkungan kenegaraan.

    Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

    Lalu, kalau dikaitkan dengan pernyataan di atas itu, “Kalau di dunia akademisi terdapat kesalahan dan kekurangsempunaan itu boleh, asal jangan berbohong. Berbeda dengan dunia politik, salah justru nggak boleh tetapi bisa berbohong”.

    Pernyataan itu memang seloroh saja he he. Berbahaya jika kenyataan dan kebiasaan yang selama ini sudah terjadi baik dalam institusi akademik maupun politik, diterima umum menjadi sebuah kebenaran baru. Ah, itu kan sudah biasa, padahal salah (generalisasi).

    Saya pikir, idealnya dalam ranah akademik dan politik sama-sama tidak diperbolehkan adanya kebohongan. Keduanya itu harus ada pertanggungjawabannya. Bila, kemudian pada kenyataannya ada kesalahan, ketidaksempurnaan bahkan kebohongan di dalamnya, maka akan selalu ada dalil atau hukum lain dalam mencari kebenaran atas kesalahan, dan atau menyempurnakannya. Asal memang tidak ada keberbohongan.

    Horas, mauliate.

    [Reply Komentar]

  11. hardipurba said on 19-03-2009

    @Tommy M J Sihotang
    Horasma di Lae Sihotang.

    Mauliate nungga ro hamu tu partungkoan na metmet on.
    Suatu pencerahan yang baik, bagi politisi maupun akademisi.
    “Keduanya itu harus ada pertanggungjawabannya, sama-sama tidak diperbolehkan adanya kebohongan”.

    Sering-sering lah mampir Lae, tersedia kopi dan salak Pakkat :-)

    Mauliate ma jala horas.

    [Reply Komentar]

  12. Rukdin Situmeang said on 05-04-2009

    Akademisi dan Politisi memiliki perbedaan, akademisi merupakan sosok individu yang idealis dan seorang konseptor yang handal. Sedang politisi merupakan invidu yang pragmatis dan berpola pikir instan, ingat dalam adagium politik praktis “tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan/kekuasaan”. Untuk mencapai/mendapat tujuan sering menghalalkan segala cara/potong kompas, sering menapikan norma yang ada dan menghianati apa yang seharusnya diperjuangkan.Moralitas bukan lagi satu indikator yang layak untuk dipegang dalam proses politik/kekuasan itu sendiri. Berbuat salah milik semua orang tanpa melihat apa status sosial dan tingkat pendidikan seseorang, tak terkecuali akademisi dan politisi. Berbohong musuh besar seorang akademisi (ilmiawan sejati) sedangkan politisi, berbohong hal biasa dilakukan(walaupun seharus tidak boleh)untuk mencapai tujuan yang inginkan. Memang idealnya seorang politisi dalam segala tindakannya, moralitas aspek yang mendasar.

    Akademisi yang berkecimpung dalam ranah keilmuan (baik teoritis dan aplikatif)individu yang jujur, objektif, kritis,skeptis, faktual dan terbuka.Segala sesuatu yang dihasilkan seorang akademisi (keilmuan tentu) akan dikontrol orang/diuji orang lain, Jadi berbohong, bukan typical akademisi, karena akan menjadi racun bagi dirinya sendiri.

    Tapi yang berbuat salah, merupakan sisi gelap umat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang jauh dari ketidaksempurnaan.
    Komentar kecil ini jauh dari kesempurnaan, mohon dimaklumi

    Mauliate godang, Horas tondi madingin pir tondi matogu

    [Reply Komentar]

  13. hardipurba said on 06-04-2009

    @Rukdin Situmeang
    Horas di Lae Situmeang par Bogor.
    Suatu paparan yang sangat lengkapdan menarik.
    Terima kasih Lae atas kunjungan dan komentarnya yang sangat membangun.
    Mauliatema.
    Horas.

    [Reply Komentar]

  14. Hendry said on 06-07-2009

    Horas…..

    Topik yang sungguh menarik, sayangnya saya bukan bagian dari “POLITISI” atau bagian dari “AKADEMISI” saya hanya seorang tokke latteung :P

    [Reply Komentar]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *