Sahabat Lama di Metro TV
Sahabat Lama di Metro TV
Senin, 24 Agustus 2009 saya sempatkan menonton Metro TV. Walau pun dalam jam kerja (pkl. 10.30~11.00 WIB), bagi saya momen yang satu ini sangat sayang untuk dilewatkan.

Alasannya?…setidaknya ada dua hal.
Pertama:
Acara talkshow mengambil tema, Indonesia Good Industrial Design. Ini topik yang menarik dan penting bagi perkembangan dunia industri di negeri ini. Betapa tidak. Faktanya saat ini adalah, banyak perusahaan besar dan multinasional yang menjadikan negeri ini umumnya hanya sebagai sasaran pasar bagi produknya. Para engineer lokal umumnya hanya sebagai penerus konsep rancangan dan desain yang dibuat oleh head quarter.
Cap sebagai “tukang jahit” pun kerap ditujukan kepada desainer dan engineer kita. Walau pun tidak seluruhnya, namun ungkapan tersebut di atas ada benarnya juga. Kondisi ini terjadi bukan karena keahlian para manpower lokal yang kurang bagus, namun kurang dilibatkan khususnya dalam proses awal pengembangan suatu produk. Peran engineer head quarter negeri asalnya dalam menentukan rancangan desain produk baru masih sangat dominan dan terkadang dirahasiakan.
Apa yang terjadi kalau tiba-tiba perusahaan tersebut pindah ke negara lain atau bahkan gulung tikar?. Apakah tenaga kerja lokal kita, khususnya bidang desain dan engineering mempunyai keahlian untuk membuat produk serupa?. Sudah saatnya industri nasional mandiri. Merancang konsep desain dan teknologi sendiri. Setidaknya ada tiga bagian yang sangat berperan, dunia industri, perguruan tinggi dan pemerintah sebagai pembuat aturan atau regulasi. Sudah waktunya, dunia industri di negara kita beralih dari sakadar assembly industry menuju ke research industry.
Kedua:
Ternyata satu dari tiga nara sumber talkshow tersebut adalah sahabat lama saya, Dino Fabriant. Bersama dengan Direktur Jenderal IKM (Departemen Perindustrian) Bpk. Fauzi dan LPPM FSRD Institut Teknologi Bandung, Bpk. Budi membahas secara detail peran pemerintah, perguruan tinggi dan dunia industri bagi kemajuan desain industri di Indonesia.
Saya bangga, kawan lama saya ini bisa menjadi salah satu keynote speaker yang mengambil topik Indonesia Good Industrial Design yang ditayangkan Metro TV secara live. Memang sudah lebih dari dua tahun, Dino Fabriant tidak lagi satu tempat kerja dengan saya, namun kawan yang satu ini tetap sering berkomunikasi sekadar menanyakan kabar. Lebih dari itu, saya dan Dino Fabriant memang memiliki konsep yang sama menuju kemandirian industri Indonesia di masa yang akan datang.
Sukses buat Pak Dino Fabriant.
Berkarya lah terus bagi kemajuan industrial design Indonesia.
(Dari sahabatmu, Hardi Purba).





Siapa siy sebenarnya Ideator dari sebuah product development..?
Berdasarkan pengalaman saya dalam mengikuti proses product development di beberapa perusahaan dimana saya pernah bergabung disana, sering kali terasa sangat LINEAR.
customer>marketing>product planner>disainer>engineering>product back to customer
atau
customer>marketing>product planner>engineering>disainer> product back to customer
hal yang kedua inilah yang kebanyakan terjadi di Indonesia khususnya..dimana disainer berfungsi sebagai pemoles struktur dari sebuah produk ..apakah dengan warna, atau dengan bentuk …terutama dinegara kita dimana industrinya masih pada phase assembling industri. Jika pun ada “product development team” lebih mengarah kepada bagaimana blue print dari sebuah produk dapat dibuat diindonesia…dengan sedikit “adjustment” disana sini sesuai karakter pasar lokal.
Pengalaman berkerja di disain center korea, dan disain center di jepang. Dimana disana industrinya lebih mengarah ke “research & development” industri…
proses product development terasa sangat berbeda.
komponen2 utama product dev. team ..duduk bersama, berinteraksi utuk memikirkan “bagaimana membuat Hit Product”.
Jika digambarkan seperti sebuah “segitiga sama sisi” dengan tiga kutub ..dimana di tengah segitiga itu adalah “produk” yang akan di buat.
Kutub2 itu adalah : Kutub Marketing/product planner, Kutub Industrial Designer/product designer, dan kutub Enginering . yang saling berinteraksi ke masing-masing kutub…dan tiap2 kutub berinteraksi dengan “produk” yang ada ditengahnya.
semantara segitiga tersebut berada dalam lingakaran besar yang merangkul “konsumen” tertentu yang menjadi target.
Dari gambaran “segitiga sama sisi” (boleh dibilang segitiga sama derajat) ..seluruh kutub membicarakan bagaimana membuat sebuah produk menjadi Hit. Kutub enginering akan menyampaikan ide2 dari sisi pengembangan teknologi, cost, dan production, marketin akan berbicara ide dengan latar belakang needs/wants nya konsumen. Sementara disainer akan berbicara bagaimana membangun kultur/lifestyle akibat produk, uniqueness, creative configuration.. and semantik, semiotik produk.
Semua peluang inovasi disegala kutub terbongkar dan dipilih inovasi mana yang di pakai dalam produk. How to manage inovation menjadi penting disini. Setelah dicapai kesepakatan bersama, dijadikanlah sebuah “product portofolio”, dan setelah itu masing kutub mempersiapkan segala sesuatunya sesuai bidangnya, engan panduan “product portofolio” tersebut.
So terasa sangat berbeda dengan metode Linear yang cenderung bersifat “komando” yang membatasi ruang gerak dan kreatifitas untuk menjadi “ideator” sebuah produk.
Jadi dgn “segitiga sama derajat” tersebut….tidak ada lagi perdebatan mana duluan “ayam atau telur” dalam Idea generation process.
Coba bayangkan sebuah iPod…mana duluan dalam prosesnya. Rasanya Ayam harus ada untuk mengeram telur disaat yang sama supaya lahir anak ayamnya.
Perlu diingat… disainer bukanlah superman, ataupun enginering bukan superman..ataupun marketing/product planner juga bukan superman.
Lalu siapa supermannya..? konsumen ? konsumen juga bukan…tidak semua keinginan konsumen harus dipenuhi…karena sebuah produk berkualitas memperbaiki kualitas hidup konsumennya. Visi – Misi product developer / perusahaan menjadi penting juga disini bagaimana mengarahkan konsumen kepada kualitas hidup yang lebih baik.
Ingat marketing Mix..? 4P (product, price, placement, promotion)
Technology, design, quality, features… adalah a part of product (1/4 dari marketing mix), marketing akan kehilangan kekuatan tanpa produk yang baik…. Walaupun saya meyakini bahwa “Every Good product has itself advertisement”.. namun tanpa strategi marketing yang baik pun sulit menjadi Hit product.
Lalu siapa superman-nya..?Produk itu sendirilah supermannya….bagaimana dia dapat diterima oleh konsumen dengan segala kualitas disain, engineering dan pemasaran denganbentuk level-level inovasi tertentu. Seperti yang sering disampaikan pak Hardipurba. Tidak selamanya Inovasi teknologi menggiring kepada suksesnya produk, maka menjadi mutlak ditelusuri inovasi dari Value sebuah produk bagik konsumennya.
Develop and Maintain every related team as and product Ideator, but the more important is total synergi team work to Realization the idea.
Thanks
Dino Fabriant
[Reply Komentar]
@Dino Fabriant
Terima kasih untuk uraian tambahannya Pak.
Salam sukses.
HP
[Reply Komentar]