Siapakah Ideator pada Pengembangan Produk?
Tulisan ini merupakan komentar dari salah seorang pengunjung blog ini, Dino Fabriant. Namun karena paparan yang diberikan mengenai pengembangan produk (product development) cukup lengkap dalam proses pengembangan produk inovatif, kemudian dijadikan satu tulisan. Hit product lahir dari kerjasama yang baik dan interaktif antar bagian terkait dalam pengembangan produk. Dino Fabriant, memiliki pengalaman yang cukup panjang di bidang desain pengembangan produk khususnya di bidang industri elektronik. Lebih dari satu dasawarsa mengabdi di perusahaan elektronik terkemuka Korea, LG Electronics sebagai industrial designer. Saat ini Dino Fabriant bekerja sebagai creative design manager di PT. Panasonic, Jakarta. Di bidang organisasi, beliau menjabat sebagai ketua ADPI (Assosiasi Desain Produk Indonesia).

Siapa sih sebenarnya ideator dari sebuah product development..?
Berdasarkan pengalaman saya dalam mengikuti proses product development di beberapa perusahaan dimana saya pernah bergabung disana, sering kali terasa sangat LINEAR.
customer>marketing>product planner>disainer>engineering>product back to customer
atau
customer>marketing>product planner>engineering>disainer> product back to customer
Hal yang kedua inilah yang kebanyakan terjadi di Indonesia khususnya..dimana disainer berfungsi sebagai pemoles struktur dari sebuah produk ..apakah dengan warna, atau dengan bentuk …terutama dinegara kita dimana industrinya masih pada fase industri perakitan (assembling industri).
Jika pun ada “product development team” lebih mengarah kepada bagaimana blue print dari sebuah produk dapat dibuat diindonesia…dengan sedikit “adjustment” disana sini sesuai karakter pasar lokal.
Pengalaman berkerja di disain center Korea, dan disain center di Jepang. Dimana disana industrinya lebih mengarah ke “research & development” industri, proses product development terasa sangat berbeda.
Komponen-komponen utama product development team, duduk bersama, berinteraksi utuk memikirkan “bagaimana membuat Hit Product”. Jika digambarkan seperti sebuah “segitiga sama sisi” dengan tiga kutub, dimana di tengah segitiga itu adalah “produk” yang akan di buat.
Kutub-kutub itu adalah : Kutub Marketing/product planner, Kutub Industrial Designer/product designer, dan kutub Enginering . Semuanya saling berinteraksi ke masing-masing kutub, dan tiap-tiap kutub berinteraksi dengan “produk” yang ada ditengahnya. Semantara segitiga tersebut berada dalam lingakaran besar yang merangkul “konsumen” tertentu yang menjadi target.
Dari gambaran “segitiga sama sisi” (boleh dibilang segitiga sama derajat) ..seluruh kutub membicarakan bagaimana membuat sebuah produk menjadi Hit. Kutub enginering akan menyampaikan ideide dari sisi pengembangan teknologi, cost, dan production, marketing akan berbicara ide dengan latar belakang needs/wants nya konsumen. Sementara disainer akan berbicara bagaimana membangun kultur/lifestyle akibat produk, uniqueness, creative configuration and semantik, semiotik produk.
Semua peluang inovasi disegala kutub terbongkar dan dipilih inovasi mana yang di pakai dalam produk. How to manage inovation menjadi penting disini. Setelah dicapai kesepakatan bersama, dijadikanlah sebuah “product portofolio”, dan setelah itu masing kutub mempersiapkan segala sesuatunya sesuai bidangnya, engan panduan “product portofolio” tersebut.
So terasa sangat berbeda dengan metode linear yang cenderung bersifat “komando” yang membatasi ruang gerak dan kreatifitas untuk menjadi “ideator” sebuah produk. Jadi dengan “segitiga sama derajat” tersebut, tidak ada lagi perdebatan mana duluan “ayam atau telur” dalam idea generation process.
Coba bayangkan sebuah iPod,mana duluan dalam prosesnya. Rasanya Ayam harus ada untuk mengeram telur disaat yang sama supaya lahir anak ayamnya.
Perlu diingat… disainer bukanlah superman, atau pun enginering bukan superman, atau pun marketing/product planner juga bukan superman.
Lalu siapa supermannya..? konsumen ? konsumen juga bukan…tidak semua keinginan konsumen harus dipenuhi…karena sebuah produk berkualitas memperbaiki kualitas hidup konsumennya. Visi – Misi product developer / perusahaan menjadi penting juga disini bagaimana mengarahkan konsumen kepada kualitas hidup yang lebih baik.
Ingat marketing mix..? 4P (product, price, placement, promotion). Technology, design, quality, features… adalah a part of product (1/4 dari marketing mix), marketing akan kehilangan kekuatan tanpa produk yang baik. Walaupun demikian, saya meyakini bahwa “Every Good product has itself advertisement”, namun tanpa strategi marketing yang baik pun sulit menjadi hit product.
Lalu siapa superman-nya..?. Produk itu sendirilah superman-nya. Bagaimana dia dapat diterima oleh konsumen dengan segala kualitas disain, engineering dan pemasaran dengan bentuk level-level inovasi tertentu.
Seperti yang sering disampaikan pak Hardi Purba. Tidak selamanya Inovasi teknologi menggiring kepada suksesnya produk, maka menjadi mutlak ditelusuri inovasi dari value sebuah produk bagi konsumennya.
Develop and Maintain every related team as and product Ideator, but the more important is total synergi team work to Realization the idea.
Thanks
Dino Fabriant


