Oleh Hardi Purba

Ilustrasi
Hiruk-pikuk mobil nasional (mobnas) telah berlangsung pasang surut. Muncul sebagai isu nasional yang banyak diperbincangkan, kemudian mereda dan hilang bak ditelan bumi. Beberapa sekolah atau universitas yang berhasil membuat model mobil yang dirangcang dan didesain untuk mobnas, ramai diliput dan dipublikasikan secara luas oleh media cetak dan elektronik.
Proyek mobnas pun banyak diperbincangkan dan dibandingkan dengan negara lain yang sudah terlebih dahulu “berani” dan sukses memproduksi mobil sendiri seperti negara tetangga Malaysia, China, India, dan negara berkembang lainnya. Optimisme berbagai kalangan pun merebak diiringi semangat berapi-api merancang dan membuat mobil merek sendiri kebanggaan nasional.














Beberapa bulan terakhir ini saya melihat pada teman-teman ada semacam tren mengganti perangkat handphone. Kalau sebelumnya rekan-rekan ini menggunakan telepon genggam jenis slim dan berukuran relatif kecil, kini telah beralih sebagai pengguna handset dengan keyboard yang lebih nyaman dan mudah “ditekan”, namun dengan dimensi yang lebih lebar 




