Mobnas dan Nasionalisme Sakichi Toyoda

August 16, 2010 · Print This Article

Oleh Hardi Purba

ilustrasiHiruk-pikuk mobil nasional (mobnas) telah berlangsung pasang surut. Muncul sebagai isu nasional yang banyak diperbincangkan, kemudian mereda dan hilang bak ditelan bumi. Beberapa sekolah atau universitas yang berhasil membuat model mobil yang dirangcang dan didesain untuk mobnas, ramai diliput dan dipublikasikan secara luas oleh media cetak dan elektronik.

Proyek mobnas pun banyak diperbincangkan dan dibandingkan dengan negara lain yang sudah terlebih dahulu “berani” dan sukses memproduksi mobil sendiri seperti negara tetangga Malaysia, China, India, dan negara berkembang lainnya. Optimisme berbagai kalangan pun merebak diiringi semangat berapi-api merancang dan membuat mobil merek sendiri kebanggaan nasional.

Kalangan dunia pendidikan, pengusaha dan para pejabat negeri ini ikut angkat bicara membahas masa depan mobnas. Seperti umumnya suatu wacana, akan ada pihak yang mendukung (pro) dan menolak (kontra) terhadap keinginan merealisasikan proyek mobnas ini. Para pihak yang kontra berpendapat bahwa daripada memikirkan mobnas lebih baik mempersiapkan bagaimana agar Indonesia dapat menjadi basis produksi kendaraan (mobil) untuk pangsa pasar global, dengan meningkatkan lokalisasi komponen meskipun mereknya bukan bendera nasional.

Bahkan pernyataan ketidaksetujuan terhadap rencana realisasi mobnas pernah diungkapkan oleh kalangan yang justru banyak bergelut dengan dunia otomotif, misalnya CEO Astra International-DSO Tbk Suparno Djasmin yang menyatakan bahwa Indonesia tidak mesti memiliki mobnas, namun yang penting itu meningkatkan lokalisasi dan basis produksi (detik.com. 4 Desember 2009).

Pernyataan senada juga pernah dicetuskan oleh petinggi Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Bambang Trisulo. Baik Suparno Djasmin dan Bambang Trisulo serta pihak yang kontra lainnya berpandangan bahwa lebih baik menjadi basis industri otomotif daripada mengembangkan mobil buatan sendiri.

Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor Johnny Darmawan juga memiliki pandangan yang pesimistis akan rencana mewujudkan mobnas. Eksekutif papan atas perusahaan otomotif yang merajai pangsa pasar lokal ini menyatakan bahwa Indonesia lebih baik menyiapkan diri untuk menjadi production base mobil atau pun produsen komponen mobil daripada bersusah payah membuat mobnas yang membutuhkan modal yang tidak sedikit.

“Jangan mimpi di siang bolong. Lebih baik kita siapkan diri jadi negara industri otomotif,” ujarnya menanggapi pertanyaan wartawan mengenai apakah Toyota sebagai produsen mobil yang sudah  lama berkecimpung di Indonesia akan membantu mengembangkan mobnas (detik.com, 24 Mei 2010).

Sisi finansial menjadi sorotan utama para kalangan praktisi industri otomotif nasional ini. Bagi pebisnis pertimbangan untung rugi menjadi satu hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar. Bagaimana pun pandangan ini adalah lumrah, dan umum dilakukan oleh kalangan mana pun yang ingin memulai mengembangkan sautu unit bisnis. Buat apa mengerjakan sesuatu dengan modal yang sangat besar tanpa diiringi prospek yang baik dan memberikan profit yang memadai?.

Dengan bahasa yang lebih sederhana, buat apa menggagas mobnas dengan segenap infrastruktur pendukungnya yang masih belum jelas masa depannya, lebih baik kita menyiapkan dan meningkatkan diri menjadi pusat produksi (production base) kendaraan roda empat tersebut beserta produsen komponennya.

Kalau para pelaku usaha industri mobil ini saja sudah memberikan gambaran suram akan mobnas, selanjutnya masih layak kah rencana ini diwujudkan?.

Sementara, bagi kalangan yang setuju dan mendukung proyek mobnas ini mempunyai pandangan visioner yang berbeda. Selain sebagai simbol kebesaran dan identitas bangsa, mobnas juga kelak memiliki prospek bisnis yang menjanjikan dengan menganggap pasar lokal dimana tren permintaan yang terus meningkat. Jika dikelola oleh tangan-tangan profesional dan berdedikasi tinggi, jelas mobnas adalah proyek yang menjanjikan dari sisi finansial dan layak digarap.

Menteri perindustrian MS Hidayat bahkan sangat mendukung akan terwujudnya impian besar yang diharapkan menjadi salah satu kebanggaan Indonesia, negara berpenduduk terbesar keempat di dunia ini.

“Itu cita-cita saya, sudah saya sampaikan ke Presiden”, ujar Menteri Perindustrian, MS. Hidayat (detik.com. 29 Januari 2010)

Bahkan, tidak tanggung-tanggung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga turut bangga atas prestasi anak bangsa membuat mobnas. Presiden SBY secara khusus ditengah kesibukannya menyediakan waktu untuk langsung melihat mobnas “Digdaya” hasil karya SMKN 1 Singosari pada perayaan Hari Pendidikan Nasional, Mei 2009 di Bandung.

Beberapa kali dalam berbagai kesempatan para petinggi Negara ini menyatakan optimistis akan hadirnya mobnas dan akan mendukungnya, walaupun belum dijabarkan secara rinci bentuk dukungan dimaksud.

Peluang Bisnis Menjanjikan

Saat ini brand Jepang berjaya dengan menguasai pangsa pasar kendaraan roda empat di Indonesia, jauh melebihi pesaingnya dari Eropa dan Amerika. Semua merek berlomba dan bersaing ketat merebut pasar domestik di semua segmen yaitu kelas sedan, kendaraan serbaguna MPV (Multi Purpose Vehicle) dan kendaraan jenis “sport” SUV (Sport Utility Vehicle). Secara umum saat ini Toyota menguasai sekitar 30% pasar domestik.

Penjualan mobil nasional tahun 2008 sebanyak 607.805 unit, sedangkan tahun 2009 turun menjadi 486.061 unit  sebagai imbas dari krisis global.  Tahun 2010 diprediksi permintaan kendaraan roda empat dalam negeri sebanyak 600.000 unit

Pasar lokal menjadi incaran produsen otomotif baik yang dirakit di Indonesia maupun yang diimpor jadi dari luar negeri dalam bentuk utuh atau CBU (Completely Build Up) maupun dalam bentuk CKD (Completely Knocked Down). Kalkulasi ekonomisnya jelas menjanjikan dan memiliki prospek cerah. Permintaan pangsa pasar lokal kendaraan roda empat yang terus bertumbuh, menjadikan Indonesia dibidik banyak produsen khususnya otomotif sebagai target pasar potensial.

Bagi sebagian kalangan bisnis mobnas cukup menjanjikan apabila produknya memiliki daya saing dengan pengelolaan dan manajemen profesional.

Nasionalisme Sakichi Toyoda

Industri otomotif Jepang yang kini berjaya di dunia dengan sederet merek ternama seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, Suzuki, Daihatsu, Isuzu dan nama perusahaan otomotif lainnya, sesungguhnya semua dimulai dan dirintis merangkak dari bawah, hingga kemudian merambah dan mampu menguasai pasar Asia, Eropa, Amerika hingga seluruh negara di belahan dunia.

Tidak ada unit bisnis (tak terkecuali industri otomotif) yang meraih sukses secara instan dan tanpa tantangan. Sejarah mencatat bahwa perusahaan raksasa Jepang (Toyota Motor Corporation) misalnya, pernah mengalami pasang surut dengan sederet kendala yang menghadang baik eksternal maupun internal.

Pondasinya dibangun kokoh, bahkan kita melihat ketika masalah eksternal (krisis ekonomi di AS tahun 2009) yang menjadikan tiga pabrikan otomotif ternama di negeri paman sam tersebut  yakni General Motor, Ford dan Chrysler, terpaksa meminta dana talangan (bailt out) dari pemerintah agar terhindar dari kebangkrutan, dan ketika masalah internal yang berhubungan dengan sistem kemudi yang bermasalah dan memaksa Toyota menarik (recall) jutaan unit kendaraannya dari konsumen di AS, mereka dengan tanggap dan cekatan menangani dan mengatasi masalah yang dialaminya.

Nama Sakichi Toyoda tidak bisa dipisahkan dari nama besar perusahaan raksasa otomotif, Toyota. Pria kelahiran Shizuoka 14 Februari 1867 ini adalah pendiri Toyoda Corporation yang menjadi cikal bakal lahirnya perusahaan otomotif raksasa, Toyota Motor Corporation (TMC).

Mesin tenun ciptaan Sakichi Toyoda saat itu dianggap masih kurang sempurna dan produk yang dihasilkannya kalah bersaing dengan buatan Eropa dan Amerika. Sakichi Toyoda kemudian tertantang ingin berbuat yang terbaik bagi negaranya.

Nasionalismenya bangkit dan tertantang akan ketertinggalan bangsanya dibandingkan dengan hasil tenun produk dari negara Eropa dan Amerika yang pada saat itu sudah lebih maju.

Motivasinya satu, Toyoda ingin mengangkat derajat bangsanya melalui profesi yang ditekuninya sebagai pembuat mesin tenun. Tak tanggung-tanggung, pria yang dijuluki sebagai ”King of Japanese Inventors” ini menugaskan anaknya Kiichiro Toyoda untuk melihat dan belajar langsung ke Amerika, untuk selanjutnya diterapkan di Jepang.

Mengembangkan bisnis saat kondisi perang tentu bukan perkara yang mudah. Apalagi kala itu Jepang terlibat langsung dalam perang dunia kedua yang klimaksnya tentara sekutu memborbardir Hirosima 6 Agustus 1945. Disusul kemudian di Nagasaki tgl. 15 Agustus 1945. Infrasuktur Jepang hancur, ribuan korban jiwa berjatuhan, lingkungan hancur akibat bahan radiasi bom atom berbahaya. Kondisi ekonomi, sosial, dan politik negara “mata hari terbit” tersebut berada di titik nadir dan benar-benar terpuruk.

Kaizen dan Inovasi Kreatif

Seiring dengan banyaknya pihak yang berminat mengembangkan mobnas saat ini merupakan suatu cermin betapa bangsa ini berhasrat memiliki kendaraan merek Indonesia. Konsep rancangan desain mobnas yang dilakukan oleh anak-anak bangsa merupakan suatu terobosan besar yang layak dapresiasi dan disambut baik kalangan industri dan pengusaha serta pemerintah dan segenap masyarakat Indonesia.

Menggarap mobnas dalam situasi pasar saat ini yang sudah sesak dengan pesaing, tentu bukanlah pekerjaan mudah. Proyek ini membutuhkan investasi yang tidak sedikit, dan penguasaan manajemen otomotif handal mutlak diperlukan. Mulai dari perancangan produk, perakitan, pemasaran, dan layanan purna jual mutlak dipercayakan kepada tangan-tangan handal dan berdedikasi tinggi, kalau tidak mau mobnas hanya akan menjadi proyek merugi yang ujung-ujungnya membebani keuangan pemerintah.

Sangat ironis jika kelak mobnas tidak berkembang dan merugi dari sisi finansial, sementara pesaing produsen pendatang terus berjaya di pasar lokal.

Apa yang diungkapkan oleh para pelaku industri otomotif yang menyatakan bahwa lebih baik menjadi negara produsen otomotif dan komponen yang tangguh daripada memikirkan membuat mobil sendiri yang membutuhkan investasi besar, layak dipertimbangkan. Seperti Thailand  dan Vietnam misalnya, walaupun relatif sudah sanggup membuat mobil sendiri namun mereka tidak melakukannya dan tetap fokus sebagi negara produsen yang tangguh.

Sistem produksi terbaik yang dikenal dengan Toyota Production System (TPS) diterapkan dan terus dikembangkan selama lebih dari setengah abad. Kaizen (perbaikan berkesinambungan) terus dilakukan tanpa henti dan menjadi budaya kerja. Daya saing produk terus ditingkatkan melalui peningkatan kualitas, tanggap akan kebutuhan pelanggan, menghilangkan biaya-biaya yang masuk kategori waste atau pemborosan melalui inovasi kreatif.

Secara hitungan ekonomis, jelas pangsa pasar lokal (syukur-syukur kalau kelak dapat diekspor) dengan demand kendaraan roda empat dalam negeri yang terus meningkat, secara hitungan ekonomi bisnis kendaraan roda empat mempunyai prospek ekonomis yang cukup menjanjikan. Namun ingat, pesaingnya adalah pemain tangguh yang sudah lebih berpengalaman dan (mungkin) unggul dalam berbagai hal terutama dalam penguasaan teknologi, jaringan supplier pemasok part atau komponen yang telah terbangun dan sistem perakitan atau produksi massal yang efisien.

Diperlukan perencanaan, dan kalkulasi matang dari segala aspek sebelum negara memutuskan mendukung proyek mobnas. Jangan lagi seperti proyek mobnas terdahulu yang gagal dan terhenti di tengah jalan.

Kita masih ingat beberapa proyek mobnas yang sudah dan hampir direalisasikan, seperti Timor, Bimantara, Maleo dan nama-nama lainnya. Menggandeng produsen yang sudah mapan, seperti pabrikan Jepang mungkin dapat diupayakan, sampai kelak mobnas dapat mandiri megelolanya sendiri mulai dari hulu sampai hilir.

Lebih baik menunggu dulu, sampai benar-benar konsep mobnas dipersiapkan dengan matang, termasuk mendorong dan mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) lokal yang kelak menjadi pemasok komponen bagi mobnas.

Jangan sampai kelak proyek ini membebani keuangan negara. Oleh karena itu pengelolanya haruslah orang-orang profesional, berpengalaman dan memahami seluk-beluk bisnis otomotif, serta mau bekerja keras mendedikasikan diri dan skill nya bagi produk kebanggaan bangsa. Kalau pun perlu disubsidi negara, ada baiknya ditetapkan secara jelas dan transparan ke publik. Investasinya berapa, kapasitas produksinya berapa, target penjualannya setiap tahunnya jelas sehingga masyarakat akan terikat secara emosional mendukung dan mensukseskan mobnas, yang  nantinya dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa secara profesional bagi kejayaan negara yang dicintainya.

Semua pihak juga tentu setuju dan mendukung, kelak negara ini memiliki mobnas kebanggaan bangsa namun di sisi lain tidak rela apabila di masa depan mobnas membebani keuangan negara, kalau seandainya pemerintah akan terlibat langsung dalam proyek otomotif raksasa ini.

Siapa pun nanti pihak yang dipercaya pemerintah mengelolanya, mobnas harus direncanakan dan dikerjakan oleh orang-orang profesional dan ahli di bidangnya. Bukan menjadi proyek rugi yang selalu tergantung pada APBN dengan mengandalkan asupan dana keuangan negara.

Dirgahayu HUT RI ke 65. Maju dan jayalah Indonesia.