Kinerja (Ponsel) Menurun CEO Tergusur

September 28, 2010 · Print This Article

Oleh Hardi Purba

Setelah perusahaan raksasa Nokia mengumumkan pergantian Chief Executive Officer (CEO) Olli-Pekka Kallasvuo awal bulan ini, giliran CEO perusahaan multinasional dari Korea Selatan LG Electronics, Nam Yong  yang mengundurkan diri efektif per 1 Oktober 2010 yang akan datang. Perusahaan elektronik raksasa dari negeri ginseng ini akan dipimpin oleh big boss yang baru, Koo Bon-Joon yang kini menjabat sebagai CEO LG Global, salah satu anak perusahaan LG’s Business.

Berita ini sesungguhnya tidaklah terlalu mengejutkan. Adalah hal yang lumrah perusahaan mengganti pucuk pimpinan sekelas CEO. Perusahaan butuh penyegaran organisasi dalam upaya meningkatkan kinerja dan daya saing korporasi. Para CEO yang diganti tersebut juga tercatat sebagai orang yang sudah lama mengabdi di dalamnya.

Olli-Pekka Kallasvuo yang posisinya kini digantikan oleh Stephen Elop misalnya, sudah berkarir lebih dari 30 tahun di Nokia dan menjadi CEO perusahaan Finlandia tersebut saat menggantikan posisi Jorma Ollila pada tahun 2006 yang lalu.

Sama halnya dengan Nam Yong, sudah menjadi orang nomor satu di LG Electronics menggantikan CEO sebelumnya S.S.Kim sejak Januari 2007, setelah sebelumnya juga Nam Yong telah meniti karir cukup lama di perusahaan elektronik yang telah mengoperasikan bisnisnya di hampir seluruh belahan dunia dengan jumlah pekerja global lebih dari 80 ribu tersebut.

Tersandung di Bisnis Telepon Pintar (Smartphone).

Disisi lain, pergantian Olli-Pekka Kallasvuo dan Nam Yong tergolong unik, karena tersandung pada masalah yang sama, yakni performa penjualan telepon pintar (smartphone) yang menurun dan jauh dari ekspektasi yang diharapkan korporasi.

LG Electronics merupakan produsen telepon seluler (posel) ketiga terbesar di dunia dengan perkiraan penguasaan pangsa pasar global sekitar 10%, setelah Nokia (40%) dan Samsung Electronics (20%).

Pangsa pasar Nokia adalah para konsumen di daratan Eropa dan negara-negara berkembang.

Android dari Google

Android dari Google

Ditengarai profitnya relatif kecil, karena umumnya ponsel produk Nokia berada di segmen low-end produk dengan harga yang relatif murah.

Produsen yang me-launch produk dengan varian yang banyak serta menjual dan menguasai pangsa pasar secara dominan, tidak sertamerta akan unggul dalam peraihan keuntungan atau profit. Menjual produk dalam jumlah yang “lebih banyak” belum tentu memperoleh marjin keuntungan lebih banyak pula, dibandingkan perusahaan yang menjual “lebih sedikit”.

Inilah kondisi ril yang terjadi pada Nokia bila dibandingkan secara head to head dengan Apple, khususnya setelah perusahaan raksasa AS ini meluncurkan ponsel pintarnya, iPhone tiga tahun lalu.

W. Chan Kim dengan Strategi Samudra Biru-nya sudah mengemukakan penelitiannya terkait dengan value innovation dan tertuang dalam bukunya yang populer Blue Ocean Strategy. Perusahaan yang menerapkan Strategi Samudra Biru dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar walaupun meluncurkan dan menjual produk yang lebih sedikit dibandingkan pesaingnya. Inovasi nilai menjadi kunci strategisnya.

Pada bulan Mei 2010, sebulan setelah Nokia mengumumkan keuntungan kuartal pertama yang merosot dimana pesaingnya Apple justru mengukir keuntungan yang fantastis, Nokia sebenarnya telah mengganti sejumlah top management pada pertengahan tahun ini, namun kenyataannya performanya tetap tidak seperti yang diharapkan dan Olli-Pekka Kallasvuo pun harus lengser dari jabatannya.

iPhone dari Apple

iPhone dari Apple

Data yang dirilis menunjukkan bahwa, Apple mengambil alih posisi Nokia sebagai produsen mobilephone yang mencatatkan keuntungan terbesar, dengan meraih laba sebesar US$1,6 miliar, melebihi raihan keuntungan Nokia sebesar US$1,1 miliar.

Padahal di kuartal itu, Nokia menjual secara keseluruhan 108.500.000 unit ponsel, sementara perusahaan dari AS, Apple hanya menjual 7.400.000 unit ponsel di seluruh dunia.

Demikian juga halnya dengan smartphone BB (BlackBerry) pada kuartal kedua tahun ini telah membukukan keuntungan spektakuler US$4,6 miliar. Angka ini sudah melebihi target yang ditetapkan sebesar US$4 miliar.

LG Electronics merupakan produsen berbagai divisi produk seperti Home Entertainment, dengan produk utama adalah TV LCD, TV Plasma, Audio products, Video products, Data Storage, Projectors dan lainnya. Divisi Home Appliance dengan produk utama kulkas (refrigerators), Washing Machines, Vacuum Cleaners dan produk lainnya.

Divisi Air Conditioning memproduksi Residential Air Conditioners, Commercial Air Conditioners, AC Compressor dan produk lainnya. Sedangkan divisi Business Solution dengan produk utama Monitors, Commercial Displays, Car Infotaiment, dan Security System.

Divisi Mobile Communications dengan produk utama CDMA handsets, GSM handsets, 3G handsets, PC-Notebook, Notebook, Desktop dan produk lainnya.

Pada laporan keuangan perusahaan yang berdiri di Korea Selatan tahun 1958 tersebut,  pada tahun ini  menunjukkan pertumbuhan penjualan positif pada semua divisi bidang bisnis, kecuali divisi Mobile Communications yang justru terpuruk dengan mengalami penurunan penjualan tahunan sebesar 29,5 persen.

Tantangan Bisnis Smartphone

Bermain di bisnis ponsel tergolong unik dengan tantangan tersendiri. Pertumbuhannya sangat pesat dengan tren perubahan teknologi yang terus berkembang, dengan selera konsumen yang cenderung berubah dengan cepat. Para pesaing umumnya dengan cepat mengikuti (me too) fitur competitor yang sukses di pasar. Sukses smartphone BB misalnya, dengan sangat cepat mendapat pesaing produk yang hampir sama baik dari dasain, fitur bahkan nama produknya. Pabrikan dari China menyuguhi konsumen lokal produk “BB” dengan nama RedBerry dan BlueBerry dengan price yang sangat kompetitif.

Strategi memang menjadi sangat menentukan bagi semua unit bisnis khususnya produk yang sarat dengan pesaing. Peran CEO menjadi taruhannya, karena menyangkut kecerdasan dan naluri bisnis top management dalam merumuskan produk yang akan dikembangkan, target pasar, dan strategi yang terkait di dalamnya.

BlackBerry

BlackBerry

Apple dengan iPhone dan  ponsel Android dari Google memilih meluncurkan produk yang tergolong kategori high-end dengan price yang lebih tinggi dengan asupan spesifikasi teknis dan fitur yang lebih kompleks.

Konsumen kini memang telah berubah, dengan mengharapkan segala sesuatu bisa serba “beres” dalam genggangan tangan yang praktis bernama smartphone (telepon pintar). Pabrikan pun terlihat terus berlomba berinovasi melakukan sentuhan kreatif membidik calon konsumen ponsel yang cenderung  menyukai dan memilih model alat komunikasi praktis dan mampu melakukan “segala hal”, yang salah satunya adalah smartphone berbasis internet.