Tsunami, Fukushima dan Ibaraki 15 Tahun Lalu

March 31, 2011 · Print This Article

Oleh Hardi Purba

Peta JepangJumat 11 Maret 2011 merupakan hari kelabu bagi Bangsa Jepang. Betapa tidak, gempa berkekuatan dahsyat 8,9 pada Skala Richter, disusul dengan sapuan tsunami beberapa menit kemudian telah membawa duka mendalam bagi negeri matahari terbit tersebut, khususnya kota Sendai, Miyagi Prefecture di wilayah Jepang Timur Laut (lihat peta). Masyarakat dunia dapat dengan cepat melihat kedasyatan sapuan tsunami di negeri Sakura tersebut melalui siaran TV. Keganasan Tsunami menghantam apa pun yang dilaluinya seperti, rumah penduduk, kendaraan, kapal, gedung, jalan raya, jembatan, kerepa api, dan fasilitas umum lainnya, memberikan dampak kerugian yang sangat besar dan korban jiwa yang sampai kini sudah lebih dari 10 ribu orang, di samping ribuan jiwa yang dinyatakan hilang.

Penderitaan Bangsa Jepang tidak sampai disitu. Gempa dan tsunami yang terjadi siang hari, pukul 3:55 waktu setempat dan diyakini sebagai yang terbesar selama 20 tahun terakhir juga mengganggu reaktor nuklir yang juga tidak kalah menakutkan warga Jepang dan penduduk dari seluruh dunia yang sedang berada di Jepang. Reaktor nuklir Fukushima bermasalah dan meledak sebagai imbas dari hantaman gempa kuat dan sapuan tsunami. Konsekuensinya, banyak yang mengungsi ke negara lain, misalnya ke Taiwan, Eropa dan wilayah lainnya yang dianggap aman dari bahaya paparan radiasi.

Pemerintah Jepang dengan sigap memberikan pertolongan dan penyelamatan kepada warganya. Banyak negara di dunia memuji betapa Jepang adalah sosok bangsa yang tabah, selain disiplin tinggi dan budaya kerja keras yang mereka miliki. Penduduk korban bencana dengan sabar menunggu pertolongan dari aparat pemerintah, juga saat-saat pembagian jatah makanan yang sangat tertib, dengan budaya antri yang mereka perlihatkan ke seantero bumi.

Saya teringat dengan kota Ibaraki, tempat yang pernah saya kunjungi 15 tahun lalu. Sudah lama memang. Rasa iba spontan muncul, melihat bagian gambar bagian kota yang luluh-lantah, tak terkecuali Bandara Udara Sendai yang porak-poranda. (bersambung)