Aktivitas Non-Value Added yang Perlu Dieliminasi

Non-Value Added

Persaingan ketat bisnis mendorong setiap industri untuk melakukan penghematan dalam rangka menciptakan struktur harga output produk yang kompetitif. Hal ini tidak bisa dipungkiri, pada saat ini hampir semua jenis produk (barang atau jasa) tidak pernah sepi dari kompetisi. Pesaing baru datang, tumbuh, dan pesaing lama berupaya memperbesar raihan pangsa pasar (market share) dengan terus melakukan penetrasi, salah satu dengan menawarkan faktor kompetisi vital yaitu harga (price) kompetitif.

Aktivitas Non-Value Added yang Perlu Dieliminasi

Di sisi lain, semua perusahaan juga tentu akan berupaya memperbesar marjin laba (profit) agar tetap bisa survive. Di tengah membengkaknya biaya produksi akhir-akhir ini, terkadang ”memaksa” pihak produsen untuk menaikkan harga jual untuk dapat mengimbangi biaya dan pengeluaran yang cenderung melambung tinggi.

Langkah efektif apa yang dapat dilakukan?

Dalam konsep Toyota Production System-TPS yang dikembangkan oleh perusahaan industri otomotif rakasasa ini, telah mengembangkan suatu konsep klasik yang menarik dalam memperbesar perolehan profit perusahaannya.

Para perintis TPS yang telah diterapkan sekitar setengah abad yang lalu di perusahan Toyota, telah memiliki pemahaman bahwa menaikkan harga jual bukanlah strategi yang tepat dalam meningkatkan marjin keuntungan/laba. Konsumen berpeluang untuk “melirik” produk merek lain ketika harga melambung tinggi.

Dari Hardi Purba Blog lainnya:  Diagram Fishbone dari Ishikawa

Terus bagaimana perusahaan otomotif Jepang ini melakukannya?……ya konsepnya sesungguhnya sangat sederhana. Meningkatkan laba/keuntungan tidak dengan serta merta menaikkan harga jual, namun dengan mengurangi/menurunkan biaya-biaya.

Pada konsep Toyota Production System yang dirintis oleh Taicho Ohno ini dengan sangat cerdas mengidentifikasi bahwa sesungguhnya terdapat banyak pemborosan (waste) dan aktivitas yang sesungguhnya tidak memiliki nilai tambah (non value added) dalam suatu perusahaan khususnya di bidang industri manufaktur yang sarat dengan proses.

Dalam Bahasa Jepang, pemborosan (waste) atau segala aktivitas yang tidak memiliki nilai tambah tersebut dikenal dengan muda. Itulah yang perlu diidentifikasi, dianalisis dan dicarikan solusi perbaikannya.

Beberapa jenis muda yang perlu dikurangkan atau bahkan dieliminasi antara lain:

1. Produksi berlebih (overproduction).

Membuat part/produk yang berlebih atau tidak dibutuhkan.

Alternatif perbaikan : buat part/barang hanya pada saat dibutuhkan, sesuai jumlah dan kualitas yang ditetapkan. Di TPS kondisi ini dikenal dengan istilah Just in Time-JIT.

2. Waktu menunggu (waiting).

Umumnya terjadi karena belum ratanya line balancing di lini produksi. Ada bagian/orang yang sangat sibuk dan kelelahan, di sisi lainnya terdapat bagian/orang yang sangat santai tanpa ada sesuatu yang dilakukan.

Dari Hardi Purba Blog lainnya:  Tipe Pemborosan yang Unik

Alternatif perbaikan : analisa dan perbaiki keseimbangan di lini produksi supaya lebih seimbang (balance).

3. Pengangkutan (transporation).

Suatu kondisi perpindahan/pengangkutan barang atau informasi yang kurang efektif. Tujuan yang sama tetapi dipakai beberapa kendaraan, padahal dari segi kecukupan muatan dan rute yang ditempuh masih memenuhi syarat dan mampu dibawa oleh satu armada/kendaraan.

Alternatif perbaikan : Kalau memang memungkinkan untuk mengirimkan barang atau informasi ke beberapa titik dilakukan oleh satu kendaraan, jangan melakukan pemborosan dengan menurunkan beberapa armada.

4. Proses (process) berlebih.

Melakukan suatu proses yang pada akhirnya sesungguhnya tidak dibutuhkan atau diganti dengan spesifikasi yang lain.

Alternatif perbaikan : tetapkan spesifikasi akhir part atau produk, dan informasikan secara jelas proses apa saja yang diperlukan pada suatu part atau produk. Adakah kondisi proses yang dilakukan saat ini sesungguhnya mubajir?….coba dievaluasi, jangan-jangan proses tersebut memang mubajir namun masih tetap dilakukan.

5. Persediaan/stok (inventory).

Alternatif perbaikan : lakukan ”audit” internal terhadap semua equipment di tempat Anda, mulai dari manpower, part, komponen, dokumen dan segenap yang ”dimiliki” adakah berlebih?….jika ya, kurangilah dan sesuaikan dengan kebutuhan. Jangan berlebih!.

Dari Hardi Purba Blog lainnya:  Konsep Trilogi Kualitas

6. Gerakan yang tidak perlu.

Segenap pergerakan pekerja yang tidak memiliki nilai tambah. Bergerak tetapi sesungguhnya gerakan tersebut tidak menambah nilai (value) bagi customer. Mangambil scrap, part yang jatuh ke body mesin atau ke lantai, membuka tali pengikat material, membuka dan menempatkan kardus sebagai tempat finish good adalah beberapa di antaranya.

Alternatif perbaikan : coba Anda lakukan identifikasi dan lakukan perbaikan. Ciptakan mekanisme cerdas, sehingga scrap misalnya akan masuk secara otomatis ke tempat yang disediakan tanpa perlu operator menyisihkan waktu dan membungkukkan badan membereskannya.

7. Barang cacat (defect).

Segala output yang di luar spesifikasi dan perlu perbaikan ulang (rework).

Alternatif perbaikan : coba Anda pikirkan Poka yoke yang cocok sehingga kesalahan proses dapat diidentifikasi sedini mungkin. Lebih jelas mengenai Poka yoke, silahkan baca artikel sebelumnya, Poka yoke: Strategi Cerdas Mengontrol Kualitas.

Penulis: Hardi Purba

 

Aktivitas Non-Value Added yang Perlu Dieliminasi

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.