Pengembangan Produk di Masa Sulit

Krisis keuangan global akan berpengaruh hebat terhadap semua perusahaan, termasuk juga perusahaan-perusahaan raksasa dunia sekelas juga akan dapat mengalami masalah. Daya beli konsumen yang menurun drastis akibat krisis finansial telah berpengaruh langsung pada penurunan daya beli masyarakat khususnya kebutuhan-kebutuhan yang berifat sekunder.

Pengembangan Produk di Masa Sulit

Pertanyaan besarnya adalah: “Bagaimana kiat para eksekutif mengelola bisnisnya agar bisa tetap bertahan di masa sulit seperti sekarang ini?”. Lebih khusus kepada para bagian atau tim pengembangan produk (product development): “Strategi pengembangan produk seperti apa yang efektif di tengah kondisi yang sulit?”.

Pengembangan Produk di Masa Sulit

Ya, ini kondisi yang sulit. Bukan karena keterbatasan teknologi atau sumber daya manusia. Ada faktor eksternal besar dan sangat berpengaruh pada daya beli yang bernama krisis finansial global. Ya…global. Hampir seluruh Negara di muka bumi ini mengalaminya.

Dari Hardi Purba Blog lainnya:  Strategi Samudra Biru di Starbucks Coffee

Inovasi Biaya (cost innovation)

Beberapa (atau banyak?) perusahaan khususnya yang bergerak di bidang manufaktur melakukan strategi yang satu ini: inovasi biaya. Setiap bagian dalam perusahaan diharuskan memikirkan untuk mengurangi atau bahkan menghapuskan segala biaya-biaya yang dianggap tidak perlu. Tata letak (lay out) dievaluasi ulang dan diperbaiki agar pergerakan operator lebih efektif. Syukur-syukur kalau perubahan lay out dapat mengurangi jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Semua diharuskan berpikir dan melakukan upaya-upaya penghematan.

Redesign (desain ulang) produk dilakukan tim engineering agar material (bahan baku) yang terpakai lebih sedikit dan lebih mudah proses pengerjaanya. Bahkan mengganti jenis material dengan yang lebih murah pun kerap dilakukan. Dalam pelaksanaannya, beberapa perusahaan bahkan memberikan apresiasi dan penghargaan kepada tim yang mampu melakukan cost innovation. Tujuannya satu: biaya yang lebih rendah. Tidak ada yang salah dengan konsep ini. Tetap efektif sepanjang tidak mengurangi kualitas produk atau jasa yang dijual ke konsumen.

Dari Hardi Purba Blog lainnya:  Tipe Pemborosan yang Unik

Namun sampai kapan mengotakatik spesifikasi teknis tanpa mengurangi kualitas output produk dapat dilakukan?. Sampai lima tahun?. Atau sampai lebih dari sepuluh tahun?. Suatu pertanyaan sederhana yang masih agak sulit di jawab.

Value Innovation (inovasi nilai)

Dengan penekanan yang sama terhadap buyer value dan inovasi dari konsep value innovation layak dipertimbangkan untuk diterapkan pada masa sulit sekarang ini. Tidak hanya sebatas melakukan penghematan dengan mengurangi biaya-biaya atau mengubah spesifikasi teknis. Namun berusaha mengeksplorasi dan menemukan buyer value baru bagi konsumen.

Inovasi nilai tergolong lebih kompleks dari pada inovasi biaya. Dibutuhkan integrasi antar bagian terkait utama tim pengembangan produk standar diantaranya: bagian marketing, desain dan engineering.

Tool E-R-I-C pada Strategi Samudra Biru yang digagas oleh W. Chan Kim (Blue Ocean Strategy) dapat diaplikasikan dalam merancang suatu produk baru yang inovatif. Dimana E (elimination) merupakan faktor-faktor kompetisi yang dihapuskan, R (reduce) merupakan faktor- faktor kompetisi yang dikurangi, I (increase) merupakan faktor-faktor kompetisi yang ditingkatkan, dan C (create) berupa faktor-faktor kompetisi yang diciptakan.

Dari Hardi Purba Blog lainnya:  Menggali Hidden Value

Dengan menawarkan produk inovatif yang sarat nilai bagi konsumen diharapkan suatu perusahaan atau unit bisnis akan mampu bertahan dan bahkan terus eksis di tengah persaingan yang kian ganas.

Penulis: Hardi Purba

 

Pengembangan Produk di Masa Sulit

You May Also Like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *